Feng shui kelenteng di Lasem

Pada mulanya Lasem merupakan kerajaan kecil yang berada dibawah pemerintahan Majapahit, pada masa tersebut Lasem diperintah oleh Bhre Lasem. Terbentuknya kota lasem sebagai komunitas pecinan diawali dari masa perdagangan yang telah terjadi sejak masa prasejarah, Hindu-Budha, dan Islam. Lasem merupakan salah satu kota yang terdapat di pesisir utara Jawa yang menjadi tempat tinggal sementara dan pemukiman tetap para pedagang Cina. Komunitas Cina dan pedagang dari Cina semakin banyak pada masa Dinasti Ming bersamaan dengan masa Cheng Ho, pedagang tersebut melakukan perdagangan dengan masyarakat di Asia Tenggara.

Masyarakat Cina Lasem pedagang Cina yang diperkirakan berasal dari daerah Zhang Zhou di Fujian. Hal tersebut didasari oleh pemujaan tokoh-tokoh kelenteng di Lasem mengikuti tata cara pemujaannya di kelenteng di Fujian. Lasem merupakan kota perdagangan yang mendapat fasilitas dari penguasa dan berada di wilayah yang strategis dengan terdapat sungai yang menghubungkan dengan daerah di pedalaman menyebabkan banyaknya pedagang yang tinggal di daerah ini. Lasem pada abad XVI terdapat dua aktivitas perkotaan yaitu kraton sebagai pusat pemerintahan dan pecinan yang menjadi pemukiman Cina sekaligus digunakan sebagai tempat untuk melakukan kegiatan ekonomi perdagangan. Keberadaan pecinan tersebut menjadi satu konteks dengan adanya kelenteng sebagai tempat yang digunakan untuk pemujaan kepada leluhur dan T’ian, pemujaan terhadap dewa-dewi TRI DHARMA yaitu Tao-Konfusius-Budha.

Kelenteng tersebut memiliki pengertian yaitu Yin Ting atau Guan Yin Ting yang juga berarti tempat ibadah Dewi Kwan Im. Pada konsep tata ruang kelenteng di Lasem ini juga memperhatikan aturan mengenai tata ruang yang selaras dengan lingkungan dan kondisi alam sekitar.  Konsep tata ruang ini disebut sebagai Feng Shui atau Hong shui , Feng berati Angin dan Shui berarti Air. Feng Shui tersebut dapat diartikan sebagai pengaturan tata ruang yang menyelaraskan kondisi lingkungan dengan aliran udara dan air. Penerapan Feng Shui memiliki makna penerapan Yin-Yang.

Ciri yang menonjol yang terdapat di kelenteng adalah warna merah yang digunakan di kelenteng sebagai lambang dari kebahagiaan berunsur Yang, warna biru atau hijau mempunyai lambang sebagai pertumbuhan dan perkembangan mempunyai unsur Yang, warna putih yang digunakan pada kelenteng melambangkan kesucian dan kesempurnaan berunsur Yin, warna kuning yang digunakan sebagai lambang keseimbangan mempunyai unsurYin-Yang, warna hitam melambangkan kemunduran, kematian, dan kehancuran memiliki unsur Yin.

Pada sisi dalam kelenteng biasanya terdapat patung-patung atau lukisan binatang burung Phoenix atau burung Hong yang melambangkan kebahagiaan atau kegembiraan memiliki unsur Yang dan menunjukkan arah selatan. Naga hijau pada kelenteng melambangkan kekuatan atau keperkasaan menunjuk  arah timur. Kura-kura hitam melambangkan kemuraman atau kesedihan dan menunjuk arah utara. Macan putih menunjuk melambangkan kemapanan atau ketenangan atau kemandirian dan menunjuk ke arah barat.

Hubungan antara binatang, warna, dan unsur dibagi menjadi 5 yaitu binatang kura-kura memiliki warna hitam berarah utara berunsur air, binatang naga memiliki warna hijau berarah timur berunsur kayu, binatang phoenix memiliki warna merah berarah selatan berunsur api, binatang ular memiliki warna kuning berarah di pusat berunsur tanah, dan binatang macan miliki warna putih berarah barat berunsur logam.

Bangunan kelenteng di Lasem tersebut juga mengikuti konfigurasi alam sekitar seperti letak gunung, bukit, sungai, dan dataran landai. Hal tersebut nampak pada kedudukan arah utara yang dilambangkan dengan kura-kura sebagai pelindung harus berupa perbukitan kokoh bila tidak ada bukit diganti dengan posisi pohon atau gedung bertingkat. Kedudukan di timur dilambangkan dengan naga yang kokoh dan luas harus nampak lebih menonjol karena bersifat Yang. Kedudukan di selatan dilambangkan burung Phoenix yang berupa tanah landai dan luas.

Letak bangunan yang berada didekat air seperti air sungai, air danau, air terjun, air laut, dalam konsep Feng shui yang harmonis akan menciptakan energi atau chi yang baik yang membawa keberuntungan pada manusia disekitarnya. Sedangkan apabila berada di daerah sungai akan menjadi tempat yang strategis untuk berniaga dan dapat digunakan untuk daerah hunian.

 

 

Sumber:

Suliyati, Titiek. 2009. Melacak Jejak Budaya Cina di Lasem. Rembang :Msi Komisariat


Seputar Kota Lama Semarang

PENDAHULUAN

Semarang sebagai salah satu kota di Indonesia yang memiliki sejarah panjang, terutama bagi sejarah kependudukan belanda di Indonesia dengan berbagai peninggalannya saat ini menjadi satu tujuan wisata budaya yang menarik bagi para wisatawan, terutama, juga bagi seorang arkeolog. Jumlah tinggalan bangunan masa kolonial di kota tersebut yang relative banyak yang juga masih belum banyak dirubah secara keseluruhan menjadi satu hal penting bagi seorang arkeolog untuk dapat kembali merekonstruksi sejarah kota tersebut. Menurut data yang didapat dari situs internet wikipedia.org, sejarah Semarang berawal kurang lebih pada abad ke-8 M, yaitu daerah pesisir yang bernama Pragota (sekarang menjadi Bergota) dan merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Daerah tersebut pada masa itu merupakan pelabuhan dan di depannya terdapat gugusan pulau-pulau kecil. Akibat pengendapan, yang hingga sekarang masih terus berlangsung, gugusan tersebut sekarang menyatu membentuk daratan. Bagian kota Semarang Bawah yang dikenal sekarang ini dengan demikian dahulu merupakan laut. Pelabuhan tersebut diperkirakan berada di daerah Pasar Bulu sekarang dan memanjang masuk ke Pelabuhan Simongan, tempat armada Laksamana Cheng Ho bersandar pada tahun 1405 M. Di tempat pendaratannya, Laksamana Cheng Ho mendirikan kelenteng dan mesjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan disebut Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) yang juga nantinya akan kami bahas dalam laporan ini.

Selain itu dari sumber yang sama mengenai sejarah penamaan kota semarang serta awal mula kependudukan belanda dikota tersebut yakni berawal pada akhir abad ke-15 M,  yakni adanya  seseorang yang ditempatkan oleh Kerajaan Demak, dikenal sebagai Pangeran Made Pandan (Sunan Pandanaran I), untuk menyebarkan agama Islam dari perbukitan Pragota. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur, dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga memberikan gelar atau nama daerah itu menjadi Semarang.

Sebagai pendiri desa, kemudian menjadi kepala daerah setempat, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Sepeninggalnya, pimpinan daerah dipegang oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II (kelak disebut sebagai Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran II atau Sunan Pandanaran Bayat atau Ki Ageng Pandanaran atau Sunan Pandanaran). Di bawah pimpinan Pandan Arang II, daerah Semarang semakin menunjukkan pertumbuhannya yang meningkat, sehingga menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Karena persyaratan peningkatan daerah dapat dipenuhi, maka diputuskan untuk menjadikan Semarang setingkat dengan Kabupaten. Pada tanggal 2 Mei 1547 bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 rabiul awal tahun 954 H disahkan oleh Sultan Hadiwijaya setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga. Tanggal 2 Mei kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Semarang.

Kemudian pada tahun 1678 Amangkurat II dari Mataram, berjanji kepada VOC untuk memberikan Semarang sebagai pembayaran hutangnya, dia mengklaim daerah Priangan dan pajak dari pelabuhan pesisir sampai hutangnya lunas. Pada tahun 1705 Susuhunan Pakubuwono I menyerahkan Semarang kepada VOC sebagai bagian dari perjanjiannya karena telah dibantu untuk merebut Kartasura. Sejak saat itu Semarang resmi menjadi kota msilik VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda.

Pada masa kependudukan belanda itulah semarang tumbuh menjadi satu kota pesisir yang pada masa itu dianggap sebgai kota dengan pertumbuhan yang maju pesat dengan segala pembangunannya. Hasil dari pembangunan kota tersebut hingga kini masih dapat kita lihat dan rasakan dalam bentuk bangunan- dengan gaya arsitektur belanda serta beberapa bangunan yang mendapat pengaruh dari kebudayaan cina. Bangunan tersebut antara lain yakni gereja bledug serta bangunan-bangunan sekitar yang terdapat di Jl. Letjend. Suprapto, Klenteng Sam Po Kong, Bangunan Lawang Sewu, serta Stasiun Kereta Ambarawa. Apa sajakah yang dapat di indentifikasi dari beberapa bangunan tersebut akan di bahas dalam laporan ini.   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

  1. A.    Kota Lama

Kota Lama terletak disemarang, kota semarang tersebut merupakan kota pelabuhan sejak penguasaan oleh pihak kolonial. Kedatangan pihak kolonial tersebut menyebabkan adanya percampuran dan pengaruh kebudayaan yang masuk ke kota Semarang sendiri. Percampuran dan pengaruh tersebut dapat dilihat dari segi arsitektural yang ada di kawasan Kota Lama. kota-kota di Indonesia pada umumnya dibagi menjadi kota dengan penduduk atau budaya lokal dan kota dengan penduduk asing atau budaya asing. Seperti halnya yang berada di Kawasan Kota Lama terdapat bangunan kolonial dan bangunan penduduk lokal, di kawasan kota kolonial di Indonesia seringkali terdapat pecinan dan pekojan yang merupakan bangsa asing pendatang datang dengan tujuan untuk melakukan kegiatan ekonomi. Pecinan dan pekojan pada umumnya terletak di dekat pasar dan memiliki ciri khas banguna tersendiri.

Masa awal penataan Kota Lama di Semarang di motori oleh Karsten (1903). Pada april 1906 Kota Semarang diresmikan menjadi kota praja hingga tahun 1942 yang diatur dalam staatsblad no. 120 tahun 1906. Pada masa kota praja tersebut Semarang telah terlepas dari kabupaten dan menjadi kota praja yang mendiri dengan batas pemerintahan yang jelas. Sejak ditetapkan menjadi kota praja, Kota Lama di Semarang mengalami pembangunan yang pesat karena menjadi pemukiman orang belanda. Hal tersebut berakibat dengan dibangunnya fasilitas pendukung perkotaan seperti tempat aktivitas olahraga, taman-taman kota, dan pembuatan kanal yang bertujuan untuk menghindari banjir. Sejak saat itu pula kawasan tersebut mulai dibangun pelabuhan, stasiun kereta, dan jaringan jalan untuk memperlancar kegiatan perekonomian. Namun pembangunan pada masa ini masih lebih cenderung di bidang sistem administrasi pemerintahan.

Tahap awal perkembangan Kota Lama yang semakin kompleks tersebut menyebabkan dibangunnya Benteng Vijhoek yang digunakan untuk melindungi warga yang tinggal di kawasan tersebut. Terdapat tiga buag gerbang dalam benteng yang masing-masing dihunungkan dengan jalan, salah satu gerbang yang ada yaitu di Jembatan Berok di sebut juga De Zuider Por. Kota Lama yang menjadi kota pelabuhan dan perdagangan pada masa tersebut juga memiliki jalur perhubungan perhubungan menggunakan sungai. Jalur tersebut terhubung dengan laut dapat dilalui hingga ke daerah pecinan yang berada di Sabandaran. Daerah pecinan tersebut juga terdapat kelenteng yang bernama Tay Kak Sie selain itu juga terdapat daerah pekojan yang juga terdapat masjid pekojan keseluruhannya terdapat di sekitar pasar.

Kota Lama ini berada pada Bagian utara Kota Semarang yang memiliki luas sekitar 31 hektar terdapat. Pada tahun 1705 kedudukan VOC di Semarang semakin kuat setelah mendapat ijin untuk mendirikan benteng karena telah membantu kerajaan Mataram menumpas pemberontakan Trunojoyo. Namun sebuah benteng yang menjadi pertahanan di wilayah pelabuhan di hancurkan pada tahun 1824 karena situasi politik dan ekonomi dirasa sudah aman, namun tetap tumbuh menjadi pusat pertahanan dan perdagangan.

Pada awalnya Kota Lama ini merupakan kota benteng yang di dalamnya hanya dihuni oleh orang-orang Belanda saja. Kota Lama menjadi kota benteng dipengaruhi oleh adanya pemberontakan dari orang Cina pada tahun 1742 dan perpindahan pusat VOC dari Jepara ke Semarang tahun 1788. Pada masa awal kedatangan pihak kolonial di Semarang ini lebih cenderung mendirikan benteng-benteng untuk menghindari serangan atau pemberontakan dari warga pribumi karena pada masa itu pihak kolonial sendiri masih berusaha untuk menaklukkan penduduk pribumi.

Abad ke 18 hingga 19 Kota Lama telah mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pada masa ini pihak kolonial lebih terlihat hidup bebas luar benteng karena telah merasa aman secara ekonomi maupun politik. Pihak kolonial sendiri membangun perkantoran kolonial karena telah menguasai wilayah Kota Lama, membangun kantor dagang sebagai pengawas dan pengatur kegiatan perekonomian yang diatur oleh pihak kolonial, dan pembanguna fasilitas sosial digunakan untuk warga kolonial yang sudah mula tinggal di luar benteng. Untuk menjaga keamanan wilayah pihak kolonial mendirikan tiga pintu gerbang besar yang bernama De wester atau pintu gerbang barat berada di Jembatan Berok, De Zulder atau pintu gerbang selatan berada di dekat Jalan Pekojan, De Ooster Port berada di dekat Jalan Raden Patah. Keamanan yang ada pada kota lama tidak hanya sebatas gerbang saja, untuk menjaga keamanan dalam kehidupan masyarakat juga didirikan 6 pos penjaga diantaranya : De Hersteller yang berada di Jalan Pengapon, Ceylon berada di halaman Gereja Gondangan, Amsterdam berada di Jl. H. Agus Salim, De Lier di dekat Kantor Pos Lama, De Smith dan De Zee yang berada di Boomlama.

Tahun 1824 benteng dan pos-pos tersebut dibongkar dan Kota Lama tumbuh menjadi Kota Modern dengan dibangunnya jaringan kereta api dan terusan dari pelabuhan yang diberi nama Kali Baru. Pertengahan PD II kota lama perekonomian tidak di dominasi oleh Belanda, perkotaan tumbuh dengan dilengkapi fasilitas kemasyarakatan seperti stasiun kereta api, stasiun trem, bank, kantor-kantor pemerintahan, dan gereja.

Kota Lama memiliki design kota yang memiliki pola bintang radial, hal ini dapat diartikan terdapat bangunan sebagai titik pusat dengan Jalan radial. Seperti halnya Kota Lama yang memiliki pola bintang radial sebagai titil pusatnya adalah Gereja Imannuel disebut juga Gereja Blenduk dan dengan jalan-jalan yang menghubungkan titik-titik vital. Selain itu Kota Lama juga memiliki design Komposisi Poligon karena pada mulanya wilayah ini merupakan kota benteng yang cocok untuk pertahanan walaupun benteng dan pos-pos penjagaan telah dihancurkan pada 1824, komposisi poligon ini menyebabkan pertemuan-pertemuan jalan yang bermanfaat.

  1. B.     Gereja Blenduk, Pecinan, dan Pekojan

Keberadaan kaum kolonialis Belanda di Indonesia tak semata-mata hanya memberikan efek buruk bagi bangsa Indonesia karena banyak warga pribumi yang menderita dan bahkan banyak juga yang meninggal, namun bangsa Belanda yang menduduki Indonesia mampu membangun dan memperbaiki sarana prasarana di tempat yang mereka duduki. Sebagai contoh adalah kota Semarang yang lokasinya berada di daaeraah administratif provinsi jawa tengah. Kondisi geografis kota Semarang sendiri berada diantara dataran tinggi yang cukup baik untuk aktivitas berkebun dan laut jawa yang tergolong relatif ramai akan aktivitas perdagangan antar pulau. Hal ini dimanfaatkan oleh bangsa Belanda untuk menjadikan kota Semarang menjadi suatu komplek pemukiman bagi bangsa Belanda waktu itu. Salah satu spot yang menjadi saksi bisu akan pengaruh kedatangan bangsa Belanda adalah kota lama. Kota lama menjadi pusat pemukiman kaum Belanda di Semarang. Hingga kini masih dapat kita lihat bangunan-bangunan kolonial yang menambah suasana yang khas ketika kita mengunjungi kota Semarang.

 

Satu hal yang cukup menarik jika kita berkunjung ke kota lama adalah keberadaan gereja blenduk. Gereja blenduk yang merupakan bangunan kuno peninggalan kolonial Belanda memiliki nilai historis yang cukup erat kaitannya dengan pertumbuhan kota  Semarang pada masa lalu. Gereja blenduk merupakan tempat yang menjadi wadah pagi para penganut kristen protestan untuk melaksanakan peribadatan. Gereja ini sebenarnya bernama G.P.I.B. Immanuel, namun banyak di kalangan masyarakat yang menyebutnya gereja blenduk. Kata blenduk sendiri tertuju dari bentuk atap gereja yang menggelembung, atau yang dalam istilah jawa menyebut mblenduk. Keberadaan dari gereja blenduk ini cukup mudah untuk dikenali karena bentuk atapnya yang cukup unik dan jarang untuk kita temui serta gaya arsitekturnya yang mirip dengan model gereja-gereja eropa sekitar abad 17-18. gereja ini berada di jalan letjen Suprapto no. 32, Semarang. Gereja ini berdiri sejak tahun 1753 oleh bangsa portugis dalam bentuk yang masih sederhana. Namun semenjak bangsa Belanda menduduki kota Semarang, gereja tersebut direnovasi dan dikembangkan oleh Belanda dengan diarsiteki oleh H.P.A de Wilde dan W.Westmaas pada tahun 1894-1895 menjadi bentuk seperti yang sekarang dapat kita lihat. Gereja blenduk memiliki denah simetris dengan bentuk segidelapan. Bangunan gereja ini berdiri menghadap ke arah selatan. Pada bagian depan gereja terdapat sepasang menara kembar yang mengapit beranda depan gereja. Kondisi dari gereja ini hingga kini masih terjaga dengan baik, karena masih digunakan sebagai tempat peribadatan utama bagi penganut kristen protestan yang tinggal di sekitaran kota lama Semarang.

 

Selain keberadaan pemukiman kaum Belanda, kita juga dapat melihat bangunan bersejarah yang letaknya berada di daerah pecinan kota Semarang, yakni kelenteng Tai Kak Sie. Lokasi kelenteng ini berada di gang Lombok daerah pecinan Semarang. Kelenteng ini mempunyai bentuk bangunan yang cukup besar dan megah yang berdiri di samping kanal yang mengalir di antara kota Semarang. Kelenteng dibangun sekitar tahun 1771. Keberadaan dari kelenteng Tai Kak Sie sendiri dianggap sebagai penjaga keharmonisan seluruh lingkungan masyarakat yang ada di sekitar kelenteng. Di depan bangunan kelenteng terdapat semacam tempat untuk (menancapkan hio) yang di samping kanan kirinya terdapat sejenis pagar kecil yang diatasnya terdapat hiasan berupa singa kecil. Di bagian atap kelenteng terdapat hiasan berupa dua ekor naga yang saling berhadapan mengapit mutiara yang menyala. Mutiara yang menyala pada bangunan tersebut melambangkan matahari sebagai sumber kehidupan, sedangkan hiasan naga pada atap bangunan melambangkan simbol kekuatan dan pengusir roh jahat. Kelenteng ini mempunyai 3 pintu masuk yang disampingnya terdapat gambar dewa penjaga pintu. Di depan pintu utama terdaapat dua arca singa sebagai penjaga pintu yang menyimbolkan kebajikan dan kejujuran. Pada bagian dalam kelenteng terdapat beberapa hiasan seperti lukisan naga hijau yang melambangkan penangkal roh jahat, unsur tumbuhan yang melambangkan kesuburan, kijang yang melambangkan kesuksesan, kelelawar yang melambangkan rejeki, gajah yang melambangkan kekuatan, dan burung bangau sebagai lambang panjang umur. Di ruang utama (tengah) terdapat altar bagi pemujaan dewa-dewa Budha. Hal ini menandakan bahwa kelenteng ini lebih condong dalam pemujaan untuk dewa-dewa Budhis daripada dewa-dewa Tao ataupun Konfusius.

Selain bangunan tersebut perdagangan yang terjadi pada masa kolonial tersebut tidak saja berpengaruh pada datangnya pedagang cina, pedagang yang berasal dari daerah di timur tengah juga mulai berdatangan ke Indonesia. Pedagang tersebut kemudian membentuk perkumpulan-perkumpulan tersendiri yang sering disebut dengan istilah pekojan, begitu juga yang terdapat di daerah kota lama Semarang, di dekat daerah pecinan ini terdapat Masjid Jami Pekojan yang terletak di Jalan Petolongan Semarang dari prasasti yang terdapat pada dinding, masjid ini dibangun pada 1309 H atau pada 1878 M dalam prasasti tersebut juga tertuliskan nama eman orang dari pakistan yang membantu usaha perenovasian masjid ini. Walaupun telah mengalami banyak renovasi bangunan ini juga masih mempertahankan unsur aslinya yaitu berupa mimbar kayu dan hiasan bulan bintang yang terdapat pada atas imam.

  1. C.    Museum Stasiun Kereta Api Ambarawa

            Pada mulanya daerah ambarawa merupakan daerah militer, guna mempermudah memangkut pasukan menuju semarang maka raja Willem I mendirian stasiun kereta api di daerah Ambarawa, stasiun tersebut memiliki luas tanah sekitar 127.500 meter persegi. Stasiun ini pada awalnya memiliki titik pengangkutan antara Kedungjati di timur laut menuju Yogyakarta melalui Magelang dari arah selatan. Hal ini masih bisa dibuktikan dengan beberapa stasiun kecil yang dibangun disepanjang jalur tersebut guna mengakomodasi angkutan kereta yang beragam. Museum kereta api Ambarawa kemudian diresmikan pada tanggal 6 Oktober 1976 di Stasiun Ambarawa untuk melestarikan lokomotif uap yang tersisa disana sekaligus beberapa lokomotif yang berasal dari stasiun lain yang sudah tidak beroperasi. Ini merupakan museum terbuka yang terdapat di samping stasiun asli. Pada bangunan museum ini terdapat banyak tinggalan berupa alat yang digunakan untuk memperlancar sarana perkeretaapian. Seperti terdapat rel yang berupa roda gigi yang sering digunakan oleh kereta api apabila manaiki tanjakan. Pada bangunan kuno stasiun tersebut terdapat tulisan WILLEM I, terdapat 21 lokomotif didalamnya

Keadaan pada dalam museum Ambarawa juga terdapat banyak alat-alat untuk sarana perkereta apian seperti pesawat telepon, stempel pejabat stasiun. Lokomotif berusia tua tersebut beberapa di antaranya mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Loko C28 buatan pabrik Jerman merupakan loko yang membantu pelarian Presiden Soekarno dari Jakarta ke Yogyakarta pada tahun 1946. Sedangkan loko D5106 pernah bertugas di jalur Hedjaz Railway dan mengangkut jemaah haji serta logistik tentara Turki.

 

 

 

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

 

            Kedatangan bangsa belanda di Indonesia membawa banyak pengaruh, dan dari pengaruh-pengaruh terkadang menimbulkan percampuran kebudayaan dengan kebudayaan lokal. Namun pihak kolonial lebih cenderung membawa budayanya sendiri dan mengembangkannya di Indonesia. Tinggalan-tinggalan arkeologis kolonial dapat dilihat dari bentuk-bentuk bangunan yang ada, bentuk bangunan tinggalan kolonial tersebut lebih cenderung bergaya eropa, berbeda dengan bangunan asli Indonesia yang menyesuaikan dengan keadaan lingkungan sekitar. Seperti yang terdapat di Kota Lama Semarang bangunan tersebut tidak hanya digunakan sebagai sebagai tempat tinggal saja, tetapi juga digunakan sebagai kantor-kantor, dan tempat yang digunakan sebagai tempat sentral arsitektur kota seperti Gereja Blenduk.

Kedatangan bangsa asing di Indonesia tidak hanya dari belanda saja, tetapi juga dari orang-orang Cina yang datang dengan tujuan melakukan perdagangan di Indonesia. Di daerah Kota Lama orang-orang Cina tersebut membentuk kelompok yang sering disebut dengan pecinan. Pecinan tersebut selalu identik dengan adanya Kelenteng, seperti pecinan di daerah kota lama sendiri terdapat kelenteng Tay Kak Sie. Selain pedagang dari Cina juga terdapat pedagang dari daerah Timur Tengah, perkampungan arab ini disebut sebagai Pekojan dan identik dengan masjid seperti Masjid Jami Pekojan di daerah Kota Lama.

Bangunan lain yang menjadi corak kolonial adalah stsiun kereta api Ambarawa. Stasiun ini didirikan untuk mempermudah pergerakan militer di daerah Semarang dan sekitarnya. Stasiun ini kini telah menjadi museum hingga dan memiliki koleksi lokomotif-lokomotif tua dan alat kelengkapan perkereta apian pada masa kolonial.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hastono Aji, Pundhi. Museum Kereta Api Ambarawa. Semarang:Universitas Diponegoro

Murtono, Aji. 2008. Arsitektur Kolonial Kota Lama Semarang: Jurnal Ilmiah Perancangan Kota dan Pemukiman.Enclosure

Moejiono,Indriastjario. Mengenal Gereja Belenduk Sebagai Salah Satu Land Mark Kota Semarang. Semarang:Universitas Diponegoro

 

 

 


Prasasti Taragal dan Pengertiannya

// swasti sakawarsatita 802 phalguna masa. tritiya krsnapaksa. tunlai kaliwuan soma. wara. tatkala rakarayan i sirikan. sumusuk i kanan sawah in taragal lamwit 1 tampah 2 muan lmah nin suket kapua lmah i ruhutan  watek trab. pomahana ni kanan kumamit i kanan sawah muan wait nya pari. lua ni kanan lmah nin suket. tpi nya lor  dpa 77 tpi nya kuluan dpa 133 hasta 3 tpi nya kidul dpa 106 tpi nya waitan dpa 133 hasta pinda pakulilinanya dpa 450 hasta 2 // naminta i kanan anak wanua i ruhutan mas pamlya i kanan sawah muan i kanan lmah nin suket. wiaih ya mas ka 1 su 1 // Pakna ni kanan sawah sinusuk. sima ni kanan prasada rakarayan i gunun hyan lmah ra mamali muan ra haliwan ban. dmakan sanka i sri maharaja rakai kayuwani // katka i kanan sawah susuken muan i kanan lmah nin suket pomahana. inansean san pamgat wadihati pu manu. pasek pasek wyawasta nin manusuk sima. mas ma 8 wdihan pilih ansit yu 1 tuhan 2 mirah mirah si guwar. kulupitan si larak. mas ma 4 wdihan ansit yu 1 soan // san pamgat makudur pu mamnan mas ma 8 wdihan ansit yu 1 tuhan 2 rolu si manut palihatan si sra mas ma 4 wdihan ansit yu 1 soan // wahuta hyan tumut manusuk pagarwsi si wahu. kudur  tumut manusuk halantanan si mani mas ma 4 wdihan ansit yu 4 // saji nin kulumpan mas ma 4 wdihan yu 4 rimwas 1 wadun 1 patuk patuk 1 lukai 1 kris 1 twat punukan 4 lingis 4 landuk 1 wankyul 1 gulumi 1 kurumbhagi 1 nakhaccheda 1 dom 1 tahas 1 buri 1 padamaran 1 saragi pagananan 1 saragi inuman 1 kampil 1 weas pada 1 wsi iket 10 wiwi 1 // muan anun winaih wdihan ansit sadugala soan. wahuta mawankar si manayu rama ni maniga. patih marbakul si sirapan. parujar nya si gupit. wahuta lampuran si wulawan. Si wadahuma. si wrutt // managam kon winaih wdian ansit sadugala soan. kalan si dras. gusti si panca. winkas si wankut. wariga 2 si riwut. si cermmin. parujar 2 si sukra. si lagur. hulair si dmak. matahun si rawan. makalankan si gok. mawatas si tara. tuhalas 2 si tagu. si tben. mapkan si dawet. makajar si gansil // rama marata winaih wdihan ansit sadugala soan si timur. si cacu. si gabah. si laksan // anakbi winaih kain sawlah soan. wahuta si pon. anakbi nin patih anakbi ni managam kon. kalan. gusti. wariga. winkas. matahun. makalankan. hulair. mawatas. parujar. mapkan. makajar. tuhalas // i tpi sirin winaih wdihan sadugala soan. ra kawun hyan winkas si rawa. ra wuga winkas si indit. ra sukun winkas si suryya. ra mabankar gusti si cantin // i kana tan rama. i ruhutan kabaih. matuha manuam muan anakbi matuha manuam. winaih mamanana maninumma. tumut i tpi sirin i kanan winaih wdihan kapua manigal maparimwani kabaih // kinon rakarayan sumusuka i kanan sawah muan i kanan lmah nin suket kapua i ruhutan. san tuhan kabaih. ra punti si sayut. hujun galuh hrdayasiwa. paningahan si tarka. matanda si manlagai. manurat dharmmasinta siwacitta //

 

Pengertian

Selamatlah tahun saka yang telah lalu 802 bulan phalguna (bulan ke-12), tanggal 3 paruh gelap, hari senin kaliwuan (kliwon) tunlai. ketika itu rakarayan i sirikan menetapkan sawah itu di taragal 1 lamwit 2 tampah dan tanah rerumputan semua tanah di ruhutan watek (kecamatan) trab, pekarangan itu dijaga sawah itu dan pohon padi, Luas tanah rerumputan itu, sisi utaranya 77 dpa sisi baratnya 133 dpa 3 hasta sisi selatannya 106 dpa sisi timur 133 dpa 3 hasta jumlah kelilingnya 450 dpa 2 hasta. Meminta penduduk desa di ruhutan itu emas sebagai pembelian sawah itu dan tanah rerumputan itu. Di berinya emas 1 kati 1 suarna. Sawah yang ditetapkan itu pengenaannya sebagai sima itu bangunan suci oleh rakarayan yang bertempat di gunung hyang (tempat) tanah mamali dan (tempat) haliwang bang adalah anugrah pemberian oleh sri maharaja rakai kayuwangi. Sampai dengan sawah yang di tetapkan dan tanah pekarangan yang berupa rerumputan itu diberikan sang pamegat wadihati pu manu. Upeti para petugas yang menetapkan sima adalah emas 8 masa kain pola angsit 1 pasang 2 tuhan (yaitu) mirah mirah si guwar, kulupitan si larak.  masing-masing Emas 4 masa  1 pasang kain angsit. Sang pamegat pu mamnang menerima emas 8 masa kain angsit 1 pasang 2 tuhan (yaitu) rolu si manut, palihatan si sra masing-masing emas 4 masa kain angsit 1 pasang. wahuta hyang ikut menetapkan pagarwsi si wahu kudur ikut menetapkan halantanan si wani mendapatkan masing-masing emas 4 masa kain angsit 1 pasang. Permintaan sang hyang kudur emas 4 masa kain angsit 4 pasang. Di dalam sesaji yang dikumpulkan di dekat kalumpang (yaitu) emas 4 masa, kain 4 pasang, 1 kapak, 1 wadung, 1 patuk-patuk, 1 lukai, 1 keris, 4 twat punukan, 4 lingis, 1 landuk, 1 wankyul, 1 gulumi, 1 wadah, 1 pemotong kuku, 1 jarum, 1 tahas, 1 penerangan, 1 wadah makanan, 1 wadah minuman, 1 kampil, 1 beras pada, 10 ikat besi, 1 wiwi. Dan adapun yang diberi masing-masing kain angsit 1 pasang adalah wahuta mawangkar si mangayu ayahnya maniga, patih marabakul si sirapan, juru bicaranya si gupit, wahuta lampuran si wulawan, si wadahuma. Si wrutt. pegawai Yang masih di pakai         (aktif) diberi masing-masing kain angsit 1 pasang yaitu kalan si dras, gusti si panca, winkas si wangkut, 2 ahli perbintangan si riwut, si cermmin, 2 juru bicara si jumat, si lagur, petugas pengelola air si dmak, matahun si rawan, makalangkang si gok, mawatas si tara, 2 penjaga hutan si tagu, si tebeng, pengurus pasar si dawet, makajar si gangsil. Para pejabat yang telah pensiun diberi masing-masing kain angsit 1 pasang yaitu si timur, si cacu, si gabah, si laksan. Para istri masing-masing diberi kain sawlah yaitu wahuta si pon, istrinya ning patih, istrinya para pejabat yang masih aktif yaitu kalang, gusti, wariga, winkas, matahun, makalangkang, petugas pengelola air, mawatas, juru bicara, mapkan, makajar, penjaga hutan. Disekeliling masing-masing diberi 1 pasang (yaitu) ra kawung hyang winkas si rawa, ra wuga winkas si indit, ra sukun winkas si suryya. Ra mabangkar gusti si cantin. Para rama itu semua di ruhutan baik tua maupun muda dan istrinya baik tua maupun muda diberi makanan dan minuman, ikut juga tetangga (sekelilingnya) diberi kain itu semua menari semua berkat. Disuruhlah rakarayan menetapkan sawah itu dan semua tanah rerumputan itu di ruhutan. Semua sang tuhan yaitu ra punti si sayut, hrdayasiwa, paninggahan si tarka, matanda si manglagai, penulis dharmmasinta siwacitta

 


Prasasti Mulak dan Pengertiannya

// swasti sakawarsatita 800 karttika masa. trtiya suklapaksa ma wa su. wara. tatkala rakarayan i wka pu catura. manusuk manima lmah sukat lua nya. panawetanya dpa 72 panidul nya dpa 63 muan sawah tampah 2 blah 1 i mulak watak wka. sima ni prasada iy upit. anun inasyan pasek pasik wyawastha nin manusuk sima. wahuta hyan san halaran pu krta anak wanua i tal warani watak hameas mas ma 4 wdihan ranga yu 1 makudur san ra wugwug pu mangal anak wanua i hinpu watak pear mas ma 4 wdihan ranga yu 1 patih si wgig rama ni dhyana mas ma 4 wdihan ranga yu 1 anakwi nya si ugi re dhyana kain ranga sawlah parujar nya si gandal rama ni sankhara mas ma 2 wdihan yu 1 wahuta nya si maja rama ni warjuk mas ma 1 wdihan yu 1 gusti nya si riwut rama ni kandi tuhalas nya rama ni guwar wdihan ranga yu 1 soan soan. wahuta putat si rangal rama ni pli mas ma 4 wdihan ranga yu 1 anakbi nya si kartini rai pli kain ranga sawlah pituntun nya si bilu rama ni codya mas ma 2  wdihan ranga yu 1 pannuran rakryan mawanua san kasumuran pu manlina. wdihan ranga yu 1 partaya i mulak pu agul wdihan ansit yu 1 kain pankat sawlah san hyan watu pinaka sima wdihan ranga yu 1 muan mata san hyan mas ma 2 // anun rama managam kon i mulak. winehan pasek pasek kalan si manawit rama ni manhulin gusti 2 si bantal rama ni dini si ganda rama ni banyaga. mas ma 2 wdihan ranga yu 1 soan soan. tuha banua si guwana rama ni lancap winkas si windhya rama ni codya. wariga si nuguh rama ni unkar parujar 2 si gamwas rama ni gaja. si kta rama ni cita. mas ma 1 wdihan ranga yu 1 soan soan. huler 2 si tahun rama ni yukti. si tajam rama ni dani. tuhalas syamwari re hari hulu wras 2 si wanua rama ni kanci. si hrt rama ni dalihan wdihan ranga yu 1 soan soan. manuwu in sima kalan 3 si tungu rama ni gandha. si sadenya rama ni ghata. si gusai rama ni suddhi. wdihan sahlai sowan sowan. tuha padahi si kuwuk rama ni mitra wdihan ranga yu 1 tpi sirin kinannan pasek pasek in tungayun tuha kalan si tungo rama ni gandha i malihyan kalan san wadur rama tni. in tis kalan si wanun rama ni pandawa. wdihan ranga yu 1 soan soan. i sampun ni kanan pasak pasak inasyakan i san yogya knana. mamanan maninum maparimwani. ramanta matuha manuam i mulak. anun kinon rakarayan humarappa susukan sima san tuhan nin kanayakan pu manadu madmak i kuwu. muan wahuta putat si landa rama ni kayi. ekapinda wyaya nin manima mas ka 1 //o//

 

Pengertian

Selamatlah tahun saka yang telah lalu 800 bulan karttika (bulan ke-8), tanggal 3 paruh terang, hari jumat wage maulu, ketika rakarayan i wka pu catura menetapkan tanah rerumputan menjadi sima luasnya (yaitu) sisi timur 72 dpa sisi selatan 63 dpa dan sawah 2 tampah 1 blah di mulak watak wka, sima bagi bangunan suci yang terletak di upit, adapun pemberian upeti bagi para petugas penetapan sima (yaitu) wahuta hyang sang halaran pu kerta penduduk  desa di tal warani watak hameas emas 4 masa kain ranggal 1 pasang makudur sang ra wugwug pu manggal penduduk desa di hinpu watak pear emas 4 masa kain rangga 1 pasang patih si wgig ayahnya dhyana emas 4 masa kain rangga 1 pasang istrinya ugi ibunya dhyana kain ranggal sebelah parujar nya si gandal ayahnya sangkhara emas 2 masa kain 1 pasang wahuta nya si maja, ayahnya warjuk emas 1 masa kain 1 pasang gusti nya si riwut ayahnya kandi tuhalas nya ayahnya guwar masing-masing kain rangga 1 pasang, wahuta putat si ranggal ayahnya pli emas 4 masa kain rangga 1 pasang istrinya si kartini  ibunya pli kain rangga sebelah pitungtung nya si bilu rama ni codya emas 2 masa kain rangga 1 pasang pangngurang rakryan mawanua sang kasumuran pu manglina, kain rangga 1 pasang partaya di mulak pu agul kain angsit 1 pasang kain pangkat sebelah sang hyang watu pinaka sima (batu sebagai sima) masing-masing kain rangga 1 pasang dan mata sang hyang emas 2 masa. adapun ayah pegawai yang masih aktif di mulak, diberi upeti kalang si manawit ayahnya manghuling 2 gusti si bantal ayahnya dini si ganda ayahnya banyaga, masing-masing emas 2 masa kain rangga 1 pasang, tuha banua si guwana ayahnya lancap winkas si windhya ayahnya codya, wariga nuguh ayahnya ungkar 2 parujar si gamwas ayahnya gaja, si kta ayahnya cita masing-masing emas 1 masa kain rangga 1 pasang, 2 huler si tahun ayahnya yukti , si tajam ayahnya dani, tuhalas syamwari ibunya hari 2 hulu wras si wanua ayahnya kanci, si hrt ayahnya dalihan masing-masing kain rangga 1 pasang, yang menghidupkan sima 3 kalang tungu ayahnya gandha, si sadenya ayahnya ghata, si gusai ayahnya suddhi, masing-masing sehelai kain, tuha padahi si kuwuk ayahnya mitra  kain rangga 1 pasang di sekeliling dikenai upeti di tunggayung yang menerima tuha kalang si tunggo ayahnya gandha di malihyang kalang sang wadur ayahnya tni, ing tis kalang si wanun ayahnya pandawa diberi masing-masing kain rangga 1 pasang, setelah upeti itu diberikan para hadirin boleh makan minum berkat dibawa pulang, para rama tua maupun muda di mulak , adapun disuruh rakarayan menghadap sima yang ditetapkan sang tuhan mewakili kanayakan pu mangadu madmak i kuwu, dan wahuta putat si landa ayahnya kayi, setiap kali biaya menetapkan sima itu emas 1 kathi.


Sedikit Mengenai Sangiran

Pendahuluan

            Sangiran merupakan situs prasejarah yang di Kabupaten Karang Anyar dan Kabupaten Sragen terletak di antara Gunung Merapi dan Gunung Lawu. Situs sangiran memiliki luas 56 kilometer persegi. Situs sangiran ini menggambarkan tentang kehidupan di masa lalu sejak 1,5juta tahun yang lalu tentang berbagai evolusi kehidupan yang terjadi evolusi tersebut mencakup evolusi manusia, evolusi budaya, evolusi binatang, dan evolusi lingkungan.  Situs sangiran ini pada mulanya adalah sebuah kubah raksasa pada puncak kubah tersebut terjadi erosi sehingga menyebabkan pembentukan cekungan di pucuk kubah tersebut. Pada situs tersebut terdapat berbagai endapan seperti lempung hitam sehingga menyebabkan situs sangiran tersebut terlihat gersang dan panas (Harry Widianto, 2009:57)

Evolusi manusia, budaya, binatang, dan lingkungan pada situs sangiran dapat dilihat dari dari temuan arkeologis dan keadaan litologi dan stratigrafi di sangiran. Lapisan stratigrafi di Sangiran terdiri dari berbagai lapisan yang memiliki rentang waktu yang sangat lama. Pada lapisan terbawah stratigrafi di sangiran terdapat lapisan lempung biru yang telah dimulai sejak plestosen, lapisan ini merupakan lingkungan laut dalam yang disebut endapan resen formasi Kalibeng yang sudah dimulai dari 2,4 juta tahun yang lalu. Lapisan diatasnya terdapat lapisan breksi lahar dan lempung hitam lingkungan tersebut menggambarkan adanya lingkungan rawa yang disebut juga formasi Pucangan yang sudah dimulai sejak plestosen bawah atau pada 1,8 juta tahun yang lalu. Lapisan diatas lapisan tersebut adalah lapisan yang terdiri dari pisoid, konkresi, dan konglomeratan formasi ini disebut Grezbank yang dimulai sejak 0,90 juta tahun yang lalu, lingkungan ini merupakan lingkungan darat yang telah menjadi permanen. Periode selanjutnya merupakan lapisan yang terdiri dari pasir fluvio-volkanik struktur silang siur yang disebut formasi Kabuh yang dimulai pada 0,73 juta tahun  yang lalu. Pada lapisan endapan selanjutnya terdapat lapisan yang bermula sejak 0,25 juta tahun yang lalu pada lapisan ini terdiri dari breksi lahar pada bagian bawah dan pasir volkanik pada lapisan atasnya, lapisan ini disebut lapisan Notopura.

Kehidupan awal sangiran dapat dilihat dari lapisan Grenzbank yang merupakan masa awal terjadinya daratan yang permanen, disusul dengan munculnya lapisan formasi kabuh yang menjadi daerah hutan hujan tropis dan menjadi daerah yang agak kering pada lapisan atasnya yaitu pada formasi Notopuro yang menjadi wilayah dari sabana yang memiliki iklim yang relatif  kering. Terjadinya perubahan lingkungan tersebut berdampak pada evolusi yang dilakukan oleh makhluk hidup pada waktu untuk beradaptasi.

PEMBAHASAN

            Lapisan yang terbentuk pada kubah sangiran sebenarnya adalah lapisan yang datar karena gerakan eksogen yang mendorong pada kedua sisi dan gerakan endogen yang mendorong keatas permukaan sehingga terbentuklah kubah Sangiran pada puncak kubah tesebut terjadi erosi dan menimbulkan cekungan sehingga terlihatlah lapisan tersebut. Pada lapisan lingkungan darat dan daerah hutan menjadi pertananda dimulainya kehidupan binatang darat pada masa awal.

Pada masa awal kehidupan yaitu Grenzbank yang dimulai kehidupan darat yang merupakan peralihan dari rawa menjadi dataran secara permanen, pada lapisan ini ditemukan alat-alat paleolitik seperti kalsedon ataupun jasper yang digunakan oleh meganthropus paleojavanicus. Hal ini membuktikan adanya usaha dari manusia purba untuk berburu da mengumpulkan makanan untk bertahan hidup.

Masa lingkungan darat dan hutan terbuka lainnya adalah pada formasi Kabuh yang terbentuk sekitar 0,73 juta tahun yang lalu pada masa ini terbentuklah daerah hutan hujan tropis yang banyak terdapat cadangan makanan dan hewan-hewan didalamnya. Pada formasi hutan hujan tropis ini memiliki banyak makhluk hidup yang tinggal didalamnya.  Masa hutan hujan trops ini terdapat gajah yang memiliki tiga jenis yaitu mastodon, stegodon, dan elephas. Dari ketiga jenis tersebut dapat dibedakan dari jenis gadingnya. Gajah ini hidup pada masa 1 juta sampai 200.000 tahun yang lalu. Makhluk hidup darat lainnya yang terdapat di sangiran yang hidup sekitar 500.000 tahun yang lalu adalah gajah purba, kuda air, badak, babi, macan, rusa, kerbau, banteng, kijang, buaya, dan kura-kura.

Pada formasi Notopuro terdapat hewan-hewan yang biasa hidup didaerah padang rumput hewan tersebut seperti rusa bertanduk yang hidup pada sekitar  700.000 juta- 300.000 juta tahun yang lalu. Tanduk yang besar tersebut juga memiliki fungsi untuk menjatuhkan ranting dan melindungi diri. Pada kehidupan rawa juga terdapat buaya yang hidup sejak masa plestosen bawah dan sekitar 1,7-0,9 juta tahun yang lalu. Masa Pucangan atau lempung hitam ini juga ditemukan kuda air sungai yang hidup sekitar 1,2 juta tahun yang lalu. Hewan-hewan purba ini banyak mengalami evolusi untuk beradaptasi dengan lingkungan.


STUDI KOMPARATIF TENTANG LUKISAN-LUKISAN GUA PRASEJARAH DI KAWASAN ASIA TENGGARA (INDONESIA, THAILAND, DAN PHILIPINA)

Lukisan dinding gua dan ceruk berupa goresan maupun warna dapat menggambarkan budaya dan kehidupan pada masa prasejarah.Lukisan tersebut dapat menggambarkan kehidupan sehari-hari masa lalu dan menjadi lukisan yang miliki nilai magis didalamnya. Gua menjadi hunian pada masa prasejarah dan berlangsung terus menerus dan lama kelemaan sistem hunian tersebut berubah. Penelitian-penelitian yang dilakukan di Sulawesi Selatan pada Gua dan Ceruk Seperti penelitian yang dilakukan Paul dan Fritz di Gua Cakondo, Uleleba, dan Balisao ditemukan suku Toala yang masih mendiami gua-gua. Penelitian lain yang dilakukan Callenfels di Gua Tomatua Kacicag ditemukan temuan berupa alat dari tulang dan pecahan gelang kaca berwarna hijau yang menjadi unsur budaya logam. Berdasarkan penelitian tersebut dapat diketahui bahwa kehidupan gua yang dimulai dari akhir masa plestosen berlangsung ke masa holosen atau kehidupan gua tersebut berlangsung hingga manusia dapat membuat tempat tinggal permanen. Gua tersebut digunakan juga untuk keperluan sehari-hari serta berlajut ke masa-masa selanjutnya seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Heekeren di Gua Bola Batu ditemukan pecahan keramik Cina abad 16 dan temuan oker merah yang digunakan sebagai bahan cat, batu bertada merah yang menjadi penumbuk bahan pewarna, dan  temuan benda sakral yang terbuat dari kerang.

Gua-gua menjadi aktivitas magis ataupun kehidupan masa presejarah dan beberapa lukisan mengindikasika gua tersebut menjadi tempat yang pernah disinggahi oleh manusia. Lukisan di Gua pattakare I terdapat lukisan cap tangan berwarna merah berbentuk ramping kemungkinan  lukisa ini merupakan cap dari tangan wanita. Lukisan ini dapat menggambarkan bahwa gua ini pernah disinggahi. Selain itu juga ditemukan lukisan babi melompat jantungnya terdapat lukisan mata panah. Lukisan ini dapat menggambarkan kehidupan masa berburu saat itu dan dapat menjadi kepercayaan agar binatang yang diburu tersebut bertambah.

Gua-gua dibawah ini memiliki persamaan di warna lukisan yaitu hitam. Gua ini diindikasikan dihuni dengan adanya cap tangan dan cap kaki anak-anak. Serta terdapat lukisan yang menggambarka kehidupan pencarian makanan yaitu terdapat lukisan babi dan perahu yang digunaka untuk pencarian ikan. Selain itu lukisan anoa yang menjadi binatang asli sulawesi. Di Gua garung ditemukan lukisan yang sama yaitu cap tangan, babi, dan anoa. Indikasi penggunaan gua oleh manusia tersebut ditambah dengan temuan lukisan manusia di Gua Lompoa selain itu juga ditemukan cap tangan, babi, matahari yang kemungkinan menjadi kepercayaan, bentuk abstrak. Lukisan manusia lain ditemukan di Sapiria dan Lasitae. Di kedua gua tersebut juga ditemukan masing-masing lukisan perahu dan ikan kemungkinan menggambarka aktivitas berburu manusia.

Lukisan Gua-gua di Sulawesi tenggara yang diteliti di sembilan gua  (Gua Metandu, Kobori, La Sabo A & B, Ceruk Tangga Ara, La Kolumbu, Toko, Wa Bose, Ceruk Ida Malanga dan La Nsarofa, memiliki kesamaan di objek, bentuk, gaya, dan teknik. Di gua-gua tersebut gambarkan aktivitas manusia berburu, berperang, berkelahi, dan menari. Objek lukisan gua-gua tersebut adalah kuda, rusa, babi, anjing, buaya, biawak, ular, ayam, lipan, matahari, dan perahu. Dari lukisan tersebut dapat menggambarkan adanya domestikasi binatang berupa lukisan kuda, anjing, dan ayam.

Lukisan di pulau Seram ditemukan lukisan berupa manusia, cap tangan, kadal, burung perahu. Lukisan tersebut terdapat di pantai utara Teluk Seleman. Lukisa perahu di gua tersebut kemungkinan menggambarkan kehidupan mencari ikan laut yang dilakuka mausia pada masa itu. Sedangkan di ceruk sungai tala terdapat lukisan berupa manusia, rusa, burung, perahu, matahari dan mata. Penggambaran mata tersebut bisa menggambarkan bentuk kepercayaan pada masa tersebut. Di timor-timur terdapat lukisan dinding gua di Lene Hara, Tutuala, dan Ili kere ditemukan lukisan seperti di gua lain yaitu berupa matahari, bulan sabit, rusa, dan ikan. Lukisan lain adalah dua kura-kura menelan ikan, selain itu terdapat lukisan alat bajak, keranjang, perahu corcora. Mengindikasikan bahwa kemungkinan lukisan tersebut berkembang hingga masa bercocok tanam. Lukisan disini ini memiliki kesamaan dengan yang ada di malaysia yaitu di Ipoh dan

Lukisan di kepulauan kei ini lebih bersifat simbolis dan totemistik, lukisan ini juga ditemukan di Pulau seram, Timor-timur, dan Irian Jaya. Lukisan di Irian Jaya memiliki kesamaan dengan daerah lain yaitu berupa manusia, binatang, cap tangan/kaki, perahu. Sedangkan lukisan disini memiliki warna merah, hitam, dan putih. Di flores merupakan salah satunya seni gores masa prasejarah yaitu berupa manusia, pisau belati dongson, kapak perunggu, ikan, dan perahu. Mengindikasikan perkembangan hingga masa perundagian gua tersebut digunakan.

Lukisan Gua dan Ceruk di Thailand

            Ceruk Khao Chan Ngam terdapat lukisan manusia dan binatang beradegan sedang berburu karena terdapat mata panah dan anjing. Mirip dengan lukisan di Afrika dan Timor-timur. Di Pha Taem dan Ban Phu terdapat lukisan dengan objek yang hampir sama yaitu cap tangan, gajah, kura-kura, manusia memegang panah di Pha Taem. Lukisan dinding gua di Tham Lai Mue terdapat bulatan yang menggambarkan matahari. Sedangkan di situs Tham Maholan lukisan berupa manusia, binatang, dan ayam jago. Di Gua Pha Kong II lukisan berbentuk lembu jantan yang tertera di langit-langit.

 

Lukisan Gua dan Ceruk di Philipina

            Warna lukisan di gua dan ceruk disini cenderung menggunakan warna hitam dan lebih cenderung goresan dan pahatan. Di situs Angono terdapat lukisan yang menyerupai lukisan di Pulau Seram, Kepulauan Kei, dan Irian Jaya yaitu manusia bentuk Y atau U. Di Alab di temukan goresan melambangkan kelamin wanita dan palus yang bentuknya menyimpang. Dari keadaan tersebut dapat digambarkan semakin lama objek dan makna lukisan dinding guwa tersebut semakin beragam. Terdapat lukisan berupa goresan berpola tulang daun atau duri ikan. Di Gua Gumahung terdapat lukisan manusia kepala bulat, leher panjang, bahu melandai, tanpa badan, bahu melandai, tangan terpisah. Sedangkan di Gua Eme terdapat lukisan manusia tanpa kepala. Perbedaan tersebut kemungkinan disebabkan oleh makna dan simbol yang berbeda. Di Gua San Carlos ditemukan pecahan gerabah dinasti ming. Lukisan sama dengan Gua Minori dengan lukisan warna hitam. Di Gua Apay terdapat lukisan berupa pria, wanita, anak, roh, hantu, suasana hutan. Di Kepulauan Anda ditemukan lukisan berwarna merah dengan cap tangan.

 

Simpulan

            Lukisan dinding gua tersebut antar wilayah memiliki persamaan seperti lukisan binatang-binatang, lukisan binatang-binatang tersebut dapat menggambarkan adanya aktivitas perburuan di masa prasejarah. Lukisan Gua dan Ceruk tersebut memiliki kesamaan di beberapa wilayah bahkan di antara Indonesia-Thailand-Philipina, kesamaan tersebut disebabkan oleh adanya migrasi manusia untuk menemukan lingkungan tempat tinggal yang lebih baik sehingga dalam migrasinya manusia tersebut memiliki kemampuan yang berasal dari daerah awal dan menyebarkan ke gua-gua di wilayah lain.

Lukisan-lukisan tersebut merupakan bukti bahwa gua dimanfaatkan sebagai tempat tinggal. Lukisan tersebut juga mengandung unsur magis ataupun tottemisme. Dan menjadi kepercayaan pada masa prasejarah.


Gerabah Budaya Palawan (Filipina), Budaya Kalanay, Budaya Niah (Kalimantan Utara)

Temuan gerabah merupakan temuan yang paling menonjol pada situs-situs tersebut. Gerabah situs-situs tersebut menunjukkan Gerabah masa perundagian seperti ciri gerabah di Gua Tabon yaitu permukaan gerabah yang halus, terdapat hiasan yang dibuat dengan teknik tekan, segi empat, garis-garis rusuk, pola tali, teknik gores dengan pola segitiga, lingkaran, dan garis bergelombang. Sedangkan pada situs ini juga terdapat gerabah sederhana berciri permukaan kasar tenpa slip berdinding tebal. Gerabah pada Budaya Kalanay juga merupakan gerabah masa perundagian hal tersebut dicirikan pembuatan menggunakan roda putar dan tatap pelandas dengan proses bertingkat. Gerabah masa perundagian tersebut terdapat hiasan yang dibuat dengan menggunakan teknik gores, teknik tekan pinggir cangkang kerang, dan tatap yang dibalut tali. Gerabah budaya niah pembuatannya menggunakan teknik roda putar dan tatap pelandas dan terdapat gerabah polos dan gerabah dengan pola hias dibuat dengan teknik tekan, gores, cat, dan poles.

Perkembangan teknik hias dan teknik pembuatan tersebut menyebabkan berkembangnya macam-macam hiasan. Teknik pembuatan gerabah pada Budaya Palawan menghasilkan tempayan, cawan, dan tutup. Pada tutup tersebut terdapat keistimewaan yaitu pegangan berbentuk kepala binatang atau burung disusun melingkar, penggambaran tokoh manusia melotot, mulut terbuka, serta hidung besar, manusia duduk berurutan dengan lutut ditarik ke atas, dan manusia tangan depan diletakkan di atas lutut sedangkan tangan belakang memegang dayung. Keistimewaan gerabah Kalanay adalah pembuatan hiasan dengan tatap yang dibalut kain, sedangkan unsur hias pada gerabahnya adalah segitiga disusun dalam pita pada bagian badan, hiasan bergelombang, zig-zag, segi empat, dan chevron. Teknik hias pada budaya niah menghasilkan bermacam-macam motif hias seperti teknik tekan menghasilkan garis silang, segi empat, tali, dan anyaman keranjang. Teknik gores dan cat digunakan dalam satu wadah, warna yang dipakai adalah hitam, merah, dan coklat. Hiasan lain adalah pita horisontal dan vertikal. Gerabah-gerabah menghasilkan pola hias yang memiliki keistimewaan tersendiri karena teknik hias yang digunakan memiliki kesamaan dan perbedaan. Hasil dari teknik pembuatan gerabah tersebut dapat menjadi ciri khas dari suatu kebudayaan.

Perkembangan variasi dan bentuk gerabah tersebut menyebabkan fungsi gerabah tersebut juga berkembang, gerabah tidak hanya digunakan sebagai alat kehidupan sehari-hari, tetapi juga digunakan sebagai bekal kubur dan wadah kubur. Kehidupan religi tersebut digambarkan oleh Budaya Palawan, kubur primer bayi dan sekunder untuk dewasa. Budaya niah terdapat kubur dengan wadah dan tanpa wadah, hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh perbedaan kelas sosial.

Benda lain yang menjadi temuan masa perundagian pada Gua Tabon adalah alat batu berupa kapak, gelang, dan manik-manik. Artefak kerang berupa manik, gelang, sendok, dan alat pemotong padi, artefak loga kapak perunggu mata tombak, gelang anting-anting. Artefak kaca dan emas berupa manik-manik dan gelang. Di Kalanay terdapat artefak lain berupa kapak, serpih,dan pahat. Sedangkan di niah ditemukan bekal kubur seperti gerabah, kapak persegi, cicin dari tulang, manik-manik kaca, dan pisau tembaga. artefak tersebut dapat menjelaskan masa masing-masing kebudayaan bercirikan masa perundagian.

Keberadaan gerabah tersebut tidak lepas dari migrasi bangsa Austronesia. Pada migrasi tersebut manusia tidak hanya membawa benda dari daerah asal, tetapi juga membawa kemampuan dari daerah asal dan berkembang di daerah tujuan. Salah satu yang berhasil dikembangkan adalah gerabah hasil dari perkembangan kemampuan dan teknologi.

Kubur Tempayan di Asia Tenggara

            Wadah kubur tempayan yang dibuat pada Situs Sa-Huynh dan Situs Ba Na Di merupakan gerabah masa perundagian, pada situs Sa-Huynh dicirikan dengan variasi bentuk tempayan berbadan bulat dengan dasar bulat, berbadan bulat bagian bawah berkaki, dan variasi bibir melebar, wadah kubur tersebut dilengkapi warna hitam, merah kehitaman, dan abu-abu. Terdapat hiasan berupa yang dibentuk dengan teknik tekan, gores, di cat atau teknik hias tatap yang menghasilkan motif hias garis vertikal, meander,. Sedangkan pada situs Ba Na Di dicirikan dengan berbadan bulat dengan dasar bulat yang dibentuk dengan menggunakan teknik roda putar dan tatap pelandas dibalut tali bagian dalam berslip merah .

Cara penguburan maupun bekal kubur pada situs tersebut berbeda pada situs Sa-Huynh merupakan kubur sekunder, satu tempayan berisi lebih dari satu individu. Susunan tempayan pada situs tersebut melingkar dengan satu tempayan ditengah dan berderet tiga dengan arah berlawanan garis pantai, hal tersebut bisa saja menggambarkan penguburan keluarga dengan memperhatikan stratifikasi sosial di masyarakat. Sedangkan pada situs Ba Na Di merupakan situs kubur primer dan sekunder, kubur primer tersebut digunakan untuk anak-anak sedangkan kubur tanpa wadah primer digunakan anak-dewasa berorientasi perempuan ke utara dan laki-laki ke selatan dan utara. Perbedaan cara penguburan pada kedua situs tersebut merupakan perbedaan kebudayaan yang disebabkan oleh masyarakat pendukungnya, hal tersebut juga dipengaruhi oleh kepercayaan-kepercayaan yang berkembang di masyarakat tersebut.

Perbedaan sistem penguburan juga terjadi pada bekal kubur. Bekal kubur berupa gerabah seperti periuk dan manik-manik, benda besi seperti tajak, pisau, figur kepala burung, manusia, cangkang kerang berupa lancipan, dan tanah liat di Situs Sa-Huynh. Temuan lain di situs tersebut berupa sekop kapak, pisau, dan perhiasan. Sedangkan bekal kubur di Situs Ba Na Di bekal kubur tanpa wadah berupa gerabah dengan jenis mangkuk, tempayan, sejenis piala, gelang, selain itu terdapat manik-manik batu dan kerang, gelang, batu dan perunggu alat dari tulang, kalung gigi binatang. Perbedaan pemberian bekal kubur tersebut bisa terjadi karena pengaruh status sosial di masyarakat serta adanya perbedaan sumber daya di wilayah tersebut.


Review Nusantao dan Distribusi Gerabah Bau-Melayu

Nusantao merupakan segolongan masyarakat yang berbahasa Austronesia dan asalnya dari pulau. Hipotesis Solheim menyebutkan petutur bahasa tersebut berasal dari Cina selatan menyebar ke arah Indo-Cina, Bayer dan Howells petutur bahasa Austronesia berasal dari Cina selatan dan menyebar samapai melanesia secara bergelombang, dan Bellwood penyebar bahasa Austronesia berpusat di Cina selatan. hipotesis tersebut didukung oleh data arkeologi berupa gerabah yang pada mulanya ditemukan di pantai tenggara Cina yang merupakan petutur bahasa Austronesia. Gerabah yang dihasilkan merupakan gerabah geometris, gerabah Sa-Huynh Kalanay yang berkembang di Asia Tenggara dan gerabah Lapita yang berkembang di pasifik diduga pembuatnya adalah petutur bahasa Austronesia. Gerabah Lungshanoid adalah gerabah di Cina Selatan yang memiliki kesamaan dengan gerabah Sa-Huynh Kalanay. Data tersebut menunjukkan bahwa Nusantao merupakan perantara dalam menyebarkan gerabah, selain itu pertanian merupakan pengetahuan petutur bahasa Austronesia.

Migrasi yang dilakukan oleh petutur bahasa Austronesia memerlukan transportasi, perbekalan seperti alat batu ataupun cangkang,  dan ketrampilan seperti pembuatan gerabah. Pada tempat tujuan juga melestarikan pembuatan gerabah karena tersedianya sumber daya alam pendukungnya. Selain kemampuan tersebut dalam migrasinya manusia juga membutuhkan kemampuan mengatasi hambatan dan beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda.

Keberadaan Nusantao di semenanjung melayu dibuktikan dengan adanya bahasa melayu yang menjadi subkelompok Austronesia, keberadaannya juga didukung oleh gerabah Bau-Malayu. Gerabah tersebut dibuat dengan teknik roda putar yangdipadukan tatap pelandas, diantara tatap juga terdapat ukiran untuk pola hias. Pola hias geometris ditempatkan dalam pita horisontal maupun vertikal diterapkan dileher ataupun dipundak, satu jenis gerabah memiliki dua macam pola hias. Gerabah ini variasinya lebih dikit dibandingkan Sa-Huynh Kalanay. Pada umumnya memiliki dasar bulat orientasi bibir tegak atau melengkung keluar.

Gerabah di semenanjung Malaya dan di Serawak memiliki kesamaan hal tersebut juga didukung dari kesamaan asumsi linguistik di daerah tersebut. Dari kedua data tersebut juga menunjukkan adanya kesamaan bahasa Austronesia di Kalimantan.

 

Situs Nangabalang

Temuan artefak di situs ini terdiri dari artefak batu seperti serpih, lancipan, calon beliung, beliung persegi, batu pukul dan batu giling. tanah liat, kayu, logam seperti fragmen besi , dan kaca berupa mutisala. Temuan yang akan termasuk banyak jumlahnya adalah gerabah baik polos maupun berpola hias. Terdapat jenis gerabah wajah tertutup yaitu periuk, tempayan, dan kendi. Wadah terbuka diantaranya cawan, mangkuk, dan pasu. Gerbah ini dibentuk dengan teknik tangan dan tatap pelandas , pada permukaan terdapat pola hias berupa teknik tekan yang menghasilkan pola hias jala yang diterapkan di bagian badan, pita, dan pola geometris diterapkan di tepian dan bibir. Pembentukan dengan hiasan menggunakan tatap pelandas jika berukir harus lebih diamati karena menjadi ciri gerabah Bau-Malayu. Hal ini didukung dengan adanya isolek yang sama Iban dan Sambas yang menjadi Isolek bahasa Austronesia.

Situs Gua Babi

Artefak di situs ini adalah alat batu berupa serpih-bilah, serut, batu pelandas, batu inti, dan kapak perimbas. Alat tulang adalah lancipan, spatula, dan perhiasan. Artefak tanah liat berupa gerabah dan kreweng. Teknik pembuatan gerabah pada situs ini adalah teknik tangan dengan tatap pelandas dan roda putar dipadukan tatap pelandas. Teknik yang digunakan untuk membentuk pola hias adalah teknik tekan dengan tatap yang diukir, hiasan yang dihasilkan tera tatap berupa pola jala. Gerabah yang dihasilkan dengan teknik diatas adalah pasu, periuk, dan mangkuk. Berorientasi tegak atau melengkung keluar. Penggunaan roda putar dan tatap berukir serta jenis gerbah tegak dan berorientasi keluar adalah  bukti adanya gerabah Bau-Malayu. Adanya bahasan Austronesia ditunjukkan adanya Isolek Banjar.

Situs Kompleks Buni

Artefak yang ditemukan di situs ini adalah beliung persegi, gerabah, perhiasan, dan kapak perunggu, ditemukan juga sisa makan yaitu cangkang kerang dan tulang hewan. Gerabah situs ini dibagi menjadi dua yaitu gerabah neolitik yang ditandai dengan tatap berukir dengan pola hias anyaman keranjang dari duri ikan. Bentuk umumnya bulat pada perut dan dasarnya. Jenisnya berupa periuk dan cawan. Pembuatan gerabah situs ini menggunakan tatap berukir menghasilkan periuk, kendi, cawan, tutup, dan bnadul jala. Gerabah pada situs ini lebih banyak persamaannya dengan Bau-Malayu.

 

Gerabah merupakan barang keperluan sehari-hari, pada asal mulanya gerabah ini bermula dari daerah Cina Selatan dan menyebar ke daerah di Wilayah Indo-Cina. Berdasarkan cara pembuatan gerabah dapat diketahui asal mula pengaruhnya berdasarkan teknik pembuatan dan teknik hias yang ada pada gerabah tersebut. Selain hal tersebut penggunaan dating dalam makalah ini akan memperkuat pendapat dalam makalah ini, bahan pembuatan gerabah tersebut perlu dipelajari karena memiliki kemungkinan sama dengan daerah asal atau mengalami sedikit perkembangan.


Makam Raja-Raja Imogiri

Pemakaman Imagiri

            Pemakaman Imagiri merupakan pemakaman kerajaan Mataram-Islam. Pemakaman ini terdapat di dusun Pajimatan, Girirejo, Kecamatan Imagiri, Bantul. Di dekat pemakaman tersebut terdapat dusun Pajimatanyang merupakan pemukiman para abdi dalem dan jurukunci yang bertanggung jawab atas keberlangsungan upacara-upacara  serta pemeliharaan makam ini. Pemakam ini terdapat pada sebuah bukit yang bernama Bukit Merak. Pemilihan tempat yang terdapat pada bukit ini juga mengingatkan pada kepercayaan prasejarah, pemakaman pada tempat yang tinggi digunakan untuk menghormati nenek moyang yang disemayamkan di tempat yang tinggi. Sultan Agung adalah orang pertama yang dimakamkan di pemakaman Imagiri tersebut pada 1645 M.

Sebelum memasuki kompleks pemakaman tersebut terdapat sebuah gapura bentar yang menjadi ciri makam Islam. Gapura tersebut berbeda dengan gapura panduraksa.

 

Setelah melewati gapura bentar pertama, terdapat Masjid yang secara fungsinya dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari dan menjadi bangunan yang profan. Pada masjid tersebut sesuai dengan fungsinya juga terdapat bedug dan jam di depan masijd. Masjid tersebut juga menjadi unsur tersendiri pada kompleks makam Islam.

 

 

 

Setelah bangunan masjid tersebut untuk menuju pemakaman utama yang berada diatas bukit kita akan melewati sebuah gapura bentar dan anak tangga yang keseluruhanya berjumlah 410 anak tangga. Disamping anak tangga yang dibatasi oleh pagar yang terbuat dari bata, juga terdapat beberapa makam yang merupakan makam umum.

 

 

Setelah menempuh anak tangga terdapat 3 jalan utama menju kompleks makam tersebut, yang terdapat di makam tertinggi adalah makam Sultan Agung. Pada puncak bukit tersebut terdapat 8 kelompok makam yang disebut kedhaton, masing-masing kedhaton beserta makamnya adalah

1. Sultan Agungan : Sultan Agung, Sunan Amangkurat II, Sunan amangkurat III.

2. Pakubuwanan : Sunan Paku Buwana I, Sunan Amangkurat IV, Sunan Paku Buwana II.

3. Bagusan / Kasuwargan : Sunan Paku Buwana III-V.

4. Astana Luhur :  Sunan Pakubuwana VI-IX.

5. Girimulya : Sunan Paku Buwana X- XI.

6. Kasuwargan : Sultan Hamengku Buwana I dan III.

7. Besiyaran : Sultan Hamengku Buwana IV-VI.

8. Saptarengga : Sultan Hamengku Buwana VII-IX.

Kedhaton 3 sampai 5 merupakan kedhaton milik Kasunanan Surakarta, sedangkan 6-8 merupakan milik Kasultanan Yogyakarta. Kedhaton 1 dan 2 menjadi tanggung jawab bersama Yogyakarta dan Surakarta.

 

 

Sebelum memasuki Kedhaton Sultan Agungan terdapat sebuah kolam yang terdapat di depan gapura.

 

Setelah melewati kolam tersebut terdapat sebuah makam, yang disebut-sebut sebagai makam musuh dan terletak di anak tangga, di maksudkan untuk menginjak-injak makam musuh tersebut.

 

 

Setelah melewati beberapa anak tangga tersebut, terdapat sebuah gapura bentuk candi bentar yang disebut Gapura Supit Urang dibaliknya terdapat halaman sebelum masuk makam utama dan terdapat kelir.

 

Gapura lain berbentuk panduraksa. Setelah melewati kelir tersebut terdapat 4 tempayan berisi air dari mata air bekung. Air tersebut dipercaya berkhasiat dalam berbagai hal untuk itu sering diadakan acara nguras enceh pada bulan sura.

 

Pada halaman supit urang tersebut juga terdapat 2 pendapa yang digunakan sebagai temapat ganti para peziarah karena harus menggunakan pakaian adat dari jawa, dan bangunan tersebut juga biasa digunakan untuk mengurusi administrasi peziarah dan tempat untuk berdoa.

 

Sebelum memasuki makam sultan agung terdapat panduraksa yang terdapat kedhaton yang memiliki bentuk bereda-beda.

 

Pada kedhaton Sultan agungan terdapat 4 makam utama dalam bangunan yaitu Sultan Agung, Sunan Amangkurat II-III dan Nyi Ratu Batang, pada masing masing makam tersebut terdapat cungkup yang terbuat dari kayu tanapa hiasan dan pola dan pada masing-masing jirat, nisan tidak terdapat hiasan atau motif ragam hias. Bangunan yang melindungi 4 makam tersebut tidak memiliki daun pintu dan cenderung berukuran kecil dan sempit.

 

Menuju kedhaton milik Kesultanan Yogyakarta sebelum memasuki kompleks pemakaman tersebut terdapat sebuah gapura yang berwarna putih.

 

 

Pada kedhaton milik yogyakarta tersebut terdapat 3 kedhaton yaitu:

1.Kasuwargan : Sultan Hamengku Buwana I dan III.

2. Besiyaran : Sultan Hamengku Buwana IV-VI.

3. Saptarengga : Sultan Hamengku Buwana VII-IX.

Pada setiap kedhaton tersebut terdapat gapura pandhuraksa yang memiliki corak-corak yang hampir sama.

 

Model  3 gapura panduraksa yang menjadi milik dari Kesultanan yogyakarta tersebut sama dan berbeda dengan 3 model gapura panduraksa yang terdapat pada sisi seberang dari kedhaton yogyakarta.

Pada sisi kompleks Kesunanan Surakarta terdapat 3 kompleks penguburan yaitu:

1. Bagusan / Kasuwargan : Sunan Paku Buwana III-V.

2. Astana Luhur :  Sunan Pakubuwana VI-IX.

3. Girimulya : Sunan Paku Buwana X- XI.

Model gapura panduraksa yang terdapat pada makam Surakarta terdapat tiga jenis panduraksa yang berbeda dengan Yogyakarta.

 

Sebelum memasuki Pemakaman Paku Buwana terdapat sebuah panduraksa yang berbeda dengan motif di yogyakarta.

 

 

Pada kompleks makam terakhir terdapat pemakaman dari Paku Buwana yang memliki panduraksa yang berbeda dengan gapura panduraksa yang lain.

 

 


Pasareyan Hastana Kitha Ageng: Pemakaman Kota Gede

            Pemakaman ini adalah pemakaman yang di bangun pada awal kerajaan Mataram Islam atas perintah dari Panembahan Senapati, dalam makam ini terdapat makam ayahanda Panembahan Senapati yaitu Ki Ageng Pemanahan. Selain makam tersebut juga terdapat makam yang lain dari pihak pegawai kerajaan dan keluarga dari raja-raja mataram islam. Pemakaman ini dikelola oleh Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Pemakaman ini terletak di selatan dari pasar Kota Gede, pola pemukiman pemakamannya terdapat pada dataran dan makam utama terletak di paling belakang di dalam bangunan besar terdapat makam dari keluarga raja beserta kerabat-kerabatnya. Pada pemakaman Kota Gede ini terdapat komponen utama pemakaman yaitu gapura panduraksa, Masjid Agung Mataram, Sendang, dan bangsal. Pada makam ini terdapat 3 halaman utama yang terdapat setelah memasuki gapura panduraksa, halaman pertama terdapat bangsal tempat abdi dalem mengurus peziarah, halaman kedua terdapat emapat bangunan yang digunakan untuk peziarah berganti pakaian karena di wajibkan menggunakan pakaian jawa, halaman ketiga merupakan tempat yang sakral karena terdapat makam raja-raja pendiri mataram islam. Pemakaman ini juga dikelilingi oleh pagar yang terbuat dari bata.

 

Pada pemakaman Kota Gede terdapat hiasan yang sering melengkapi bangunan, pada pintu masuk pertama terdapat gapura panduraksa yang merupakan ciri makam raja-raja di Jawa. Gapura panduraksa tersebut merupakan gaya bangunan yang mirip seperti candi, pada gapura panduraksa tersebut terdapat ragam hias yang mirip dengan kala yang sering terdapat pada candi.

 

 

 

 

 

 

Setelah melewati pintu gapura panduraksa, terdapat Masjid Agung Mataram yang di bangun pada 1589 M. Pada setiap makam keluarga raja pasti terdapat komponen-komponen utama pemakaman seperti Masjid makam / Masyad.

 

Pada selatan dan utara masjid terdapat dua buah bangunan pendapa dan salah satunya

 

Setelah melewati pendapa terdapat, satu gapura dan panduraksa kemudian terdapat gapura panduraksa lagi yang terbuat dari bata setelah panduraksa tersebut terdapat kelir yang menutupi Hastana Kitha Ageng. Gapura panduraksa ini memiliki daun pintu yang berhias tumbuhan.

 

 

 

Setelah melewati gapura panduraksa dan kelir terdapat empat bangsal yang digunakan abdi dalem untuk mengurusi peziarah dua diantaranya digunakan untuk peziarah berganti pakaian dan menunggu. Dua bangunan selanjutnya adalah bangsal pengapit ler dan bangsal pengapit kidul.

 

 

Sebelah selatan bangsal kakung terdapat gapura panduraksa dari bata terdapat sendang selirang terbagi menjadi dua sendang yaitu sendang selirang lanang di bagian utara dan sendang seliran wadon di sebelah selatan menurut sumber sendhang ini dikerjakan oleh Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senapati. Ada juga yang berpendapat bahwa disebut selirang karena air kolam tersebut berasal dari makam Panembahan Senapati.

  1. Sendang Kakung                                            b. Sendang putri

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Makam Utama

            Pintu masuk makam utama pada pemakaman Kota gede adalah gapura panduraksa berwarna putih dan memiliki daun pintu dari kayu yang memiliki ragam hias berbentuk tumbuhan untuk memasuki makam utama tersebut kita diharuskan menggunakan pakaian adat jawa lengkap dan tidak boleh menggunakan perhiasan. Pemakaman utama ini bisa dimasuku hanya pada hari senin dan jum’at.

 

 

Pada pemakaman utama ini seluruhnya terdapat 627 makam dan pada bangunan utama terdapat 81 makam, yang terdapat pada bangunan utama tersebut adalah makam dari pihak keluarga kerajaan. Pada bangunan makam utama pernah terjadi kebakaran hingga menyebabkan rusaknya nisan, jirat, dan cungkup yang terdapat pada bangunan utama, atas perintah Sunan Paku Buwana X dilakukan renovasi, sehingga nisan dan jirat tersebut diperbarui menjadi marmer dari Italia. Nisan dan jirat yang terdapat di dalam bangunan utama tersebut tanpa diberi hiasan hanya diberi aksara jawa untuk penamaan makam tersebut.

 

Konsep dalam pemakaman di Kota gede pada bangunan utama disisi paling utara adalah orang yang tertua semakin keselatan semakin muda, hal tersebut mempunyai makna menghormati orang yang lebih tua atau menghormati keluarga kita yang lebih tua. Makam utama yang terdapat didalam bangunan utama tersebut adalah Ki Ageng Pemanahan, Ki Juru Martani, Nyi Ageng Nis, Panembahan Senapati, Panembahan Seda Ing Krapyak, Sultan Hamengkubuwana II, dan empat Adipati Pakualaman. Keseluruhan makam tersebut ditutupi cungkup yang terbuat dari kayu. Terdapat sebuah makam yang yang disisi satunya di dalam cungkup dan sisi sebelahnya di luar cungkup yaitu makam dari Ki Ageng Mangir sebagai seorang menantu dan sebagai seorang musuh Panembahan Senapati.

 

 

 

 

Ragam Hias

 

Pada pemakaman Hastana Kitha Ageng terdapat sebuah gapura bentar namun bangunan tersebut telah rusak karena gempa yang terjadi beberapa waktu silam. Salah satu komponen pemakaman islam tersebut juga terdapat gapura panduraksa, pada gapura panduraksa ini terdapat dua macam gapura panduraksa yaitu gapura yang memiliki daun pintu dan tidak memiliki daun pintu. Gapura panduraksa ini juga terdapat dua macam jenis yaitu hanya terbuat dari bata dan tanpa warna (seperti jalan menuju sendang) dan gapura panduraksa dengan warna putih (gapura memasuki makam utama). Pada bangunan gapura panduraksa ini merupakan bangunan yang menyerupai candi masa klasik, namun bentuk dan fungsinya berbeda sesuai dengan kegunaan dan ajaran agama yang ada. Pada gapura panduraksa ini terdapat hiasan yang menyerupai kala yang terdapat pada bangunan candi. Hiasan yang menyerupai kala tersebut tentu memiliki bentuk yang sangat berbeda dengan yang ada pada candi sebenarnya. Pada gapura panduraksa lebih mengarah pada kepala dan terdapat sayap yang enjadi ciri khas hiasan pada bangunan panduraksa, tanpa dilengkapi makara yang seperti terdapat pada candi. Hiasan lain yang terdapat pada gapura panduraksa itu adalah motif tumbuh tumbuhan yang menyerupai hiasan pada bangunan candi yaitu antefiks.

 

 

 

Gapura panduraksa memiliki ciri tersendiri dalam pembangunannya terkait dengan fungsi yang di terapkan dalam agama, ragam hiasnya pun juga sudah berbeda dengan bangunan candi pada masa hindu budha. Pada gapura panduraksa juga terdapat hiasan yang sayap yang terdapat pada samping gapura panduraksa tersebut. Pada sayap tersebut dihiasi dengan motif tumbuh-tumbuhan.

 

 

Pada pintu gapura panduraksa tersebut juga terdapat ragam hias dengan motif sulur, ragam hias yang dipakai dalam hiasan kebanyakan adalah tumbuh-tumbuhan, hal tersebut berkaitan dengan ajaran Islam yang sebelumnya melarang penggambaran motif hewan maupun manusia.

 

Hiasan sulur tersebut terdapat pada setiap gapura panduraksa yang memiliki daun pintu baik di pintu masuk pemakaman maupun pintu masuk menuju makam utama.